Mitos Yogyakarta: Berkunjung ke Tempat Angker – Berani?

Mitos Yogyakarta – Sudah pasti baik itu wisatawan lokal dan internasional sudah akrab terhadap kota yang khas dengan salah satu keajaiban dunia, yaitu Candi Borobudur, yang terletak di kota Yogyakarta. Biasanya lebih akrab disebut dengan nama Jogja. Kota dengan berbagai keunikan dan keramahtamahan tersendiri ini memiliki beribu kenangan yang berarti bagi kita semua, setidaknya bagi Anda yang sudah atau beberapa kali berkunjung ke negeri Keraton ini.

Tentunya terlepas dari budaya dan keindahan dari Daerah Istimewa Yogyakarta ini, terdapat sisi hitam yaitu mitos Yogyakarta itu sendiri. Kota ini memiliki beberapa tempat yang dipercaya masyarakat banyak sebagai tempat angker atau biasa dihuni oleh para makhluk kasat mata. Memang berbagai tempat yang dipercaya tersebut dapat mengeluarkan aura magis yang lebih terasa oleh para manusia yang sensitif atau memiliki indera keenam.

Tempat Angker

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos Yogyakarta tersebut, tak bisa dipungkiri lagi bahwa Yogyakarta merupakan salah satu kota yang kaya akan objek wisata, sentral pendidikan, serta kekayaan budaya yang masih menjadi keunggulan tersendiri dari wilayah lain. Di tengah hiruk pikuk kota Yogyakarta yang semakin modern, tempat angker yang dekat dengan mitos tetap diyakini hingga kini. Salah satu mitos Yogykarta yang terkenal adalah beringin kembar di Alun-alun Kidul.

Mitos Yogyakarta: Berkunjung ke Tempat Angker – Berani?

Mereka yang selalu pergi berkunjung ke Alun-alun Kidul merasakan penasaran ingin memecahkan misteri pohon beringin kembar yang berdiri gagah di Alun-alun Kidul. Biasanya para wisatawan yang ke sana selalu berjalan gantian melewati dua pohon beringin kembar tersebut. Rupanya memang hal itu sudah menjadi sebuah permainan seru yang disebut Masangin, oleh para penduduk setempat. Tradisi ini memang sudah ada sedari dulu sejak zaman Kesultanan Yogyakarta masih berjaya. Permulaaannya, Masangin itu selalu dilakukan saat tradisi topo bisu yang dilaksanakan setiap malam 1 suro.

Para abdi dalem Keraton dan juga prajurit melakukan tradisi ini dengan mengelilingi benteng dan tidak boleh berkata satu kata pun. Dengan pakaian lengkap adat Jawa, mereka berjalan dari halaman Keraton menuju pelataran alun-alun untuk melewati dua pohon kembar itu. Hal ini diyakini untuk meminta berkah dan perlindungan dari banyaknya serangan musuh. Jika Anda berhasil melintasi dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup, niscaya semua permintaan akan dikabulkan. Itulah asal muasal mitos Yogyakarta, Masangin.

Dibaca 1349 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUpon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *