Hotel Yogyakarta – Liburan Akhir Tahun, Menginap di Mana?

Hotel Yogyakarta - Liburan Akhir Tahun, Menginap di Mana

Hotel Yogyakarta di akhir tahun biasanya menjadi kata kunci yang banyak di cari oleh para calon wisatawan yang hendak melewatkan liburan di kota kota pelajar dan budaya ini. Banyak penginapan dan hotel yang menawarkan berbagai acara pada malam natal dan tahun baru. Beberapa hotel menerapkan tarif tambahan (surcharge), ada pula yang justru memberi harga kamar dengan tarif promosi.

Jika Anda berniat melewatkan liburan akhir tahun di Yogyakarta, sebaiknya persiapkan akomodasi dari jauh-jauh hari. Pada akhir tahun biasanya hotel-hotel  Yogyakarta di ring satu, yaitu di sekitar Malioboro dan jalan utama di Kota Yogyakarta rata-rata kamar sudah dipesan (booked) hingga 90 persen. Hotel-hotel berbintang di ring dua juga rata-rata sudah dipesan hingga 80 persen. Sedangkan hotel-hotel kelas melati yang berada di pinggiran kota masih menyediakan banyak kamar. Meskipun hotel kelas melati, jika lokasinya masih di sekitar kawasan Malioboro, setiap liburan biasanya penuh oleh tamu.

Rata-rata hotel Yogyakarta sudah mempunyai tamu sebagai pelanggan tetap. Para tamu ingin menginap kembali ke hotel itu karena pelayanan hotel dinilai memuaskan. Jika tidak, tamu tidak akan kembali ke hotel itu untuk menginap yang kedua kalinya. Tarif kamar hotel kelas melati di kawasan Malioboro berkisar antara Rp 310 ribu hingga Rp 600 ribu per malam.

Selain menyediakan kamar, hotel bintang dua juga mengemas acara saat pergantian tahun. Seperti Jogja Village Inn di Jalan Menukan Nomor 5 Yogyakarta.  Umumnya orang meramaikan tahun baru dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api, tetapi berbeda dengan hotel ini, mereka  tidak membagikan terompet kepada tamu menginap maupun tamu undangan cara pergantian tahun. Tetapi mereka membagikan sapu lidi.

Mereka juga menyuguhkan tarian bedoyo oleh para penari. Saat countdown pergantian tahun, para tamu diatur sedemikian rupa untuk menyapu. Hasil dari gerakan menyapu itu menimbulkan suara-suara alam dan gerakan menari.

Memang konsep hotel yang berada di jalan ke arah Parangtritis itu mengedepankan konsep hotel butik dengan alam yang natural. Konsep hotel seni dan budaya pun diangkatnya. Selain ada pendopo untuk jamuan makan, pertemuan dan pentas, juga ada galeri seni yang dipajang karya-karya seni para seniman. Mulai dari lukisan hingga instalasi. Harga sewa kamar hotel tersebut memang tidak semurah hotel melati, yaitu Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per malam. Namun tarif itu tidaklah mahal bagi wisatawan yang mengutamakan kenyamanan menginap di hotel Yogyakarta dengan konsep natural dan butik tersebut.

Sementara hotel bintang lima seperti Hotel Hyatt biasanya menggelar konser musik artis-artis dari Jakarta untuk memeriahkan acara pergantian Tahun. Sedangkan Hotel Royal Ambarrukmo menyuguhkan suasana Keraton Yogyakarta pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII biasanya merayakan tahun baru dengan acara tradisional seperti suasana keratin pada zaman dahulu,  seperti patehan atau minum teh yang disuguhkan oleh para abdi dalem. Untuk acaranya sendiri biasanya mereka melibatkan beberapa komunitas seni dan budaya, dengan spirit menumbuhkan kebanggaan atas warisan leluhur. Wisatawan bisa menikmati layanan tersebut dengan harga mulai dari Rp 1,35 jutaan net per malam.

Bagi Anda yang tidak ingin menginap di hotel Yogyakarta, bisa memilih homestay yang berada di perkotaan dengan tarif antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per malam. Namun, bagi yang ingin tinggal di pedesaan, banyak desa wisata yang menawarkan penginapan murah mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per malam.

Dibaca 915 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUpon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *