Yogyakarta Kehilangan 4 Miliar Akibat Reklame Liar

keyogyakarta-Yogyakarta Kehilangan 4 Miliar Akibat Reklame Liar

Pemerintah Kota Yogyakarta kehilangan pemasukan sekitar 4 sampai 5 miliar rupiah setiap tahunnya. Hal ini disebabkan pemasukan dari pajak reklame selama ini hanya 60% saja yang berasal dari reklame yang terpasang di seluruh kota Yogyakarta. Padahal jika semua dikenai pajak, maka Yogyakarta sehausnya bisa mendapat pemasukan hingga Rp 9 miliar.

Hingga kini pemerintah masih kewalahan menarik pajak reklame liar tersebut karena kesulitan merunut sumbernya. Kepala Kepala Bidang Pajak Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan (DPDPK) Kota Yogyakarta Tugiarto mengatakan semakin banyak pemain yang menetapkan reklame liar, bahkan titik baru yang terus muncul padahal belum ditetapkan sebagai lahan resmi pemasangan reklame.

Tak semua vendor tercatat resmi oleh pemerintah. Pemain bisnis reklame di Yogyakarta makin banyak. Tapi tak semua vendor itu tercatat resmi oleh pemerintah. Sebelum tahun 2000, bisnis reklame di Yogyakarta masih dikuasai satu vendor yakni PT. Karka Media dengan direktur utama GBPH Prabukusumo, adik tiri Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X. Perusahaan ini dikenal melayani jasa reklame berukuran raksasa (4 x 8 meter).

Saat ini di Yogyakarta tercatat ada lima vendor besar dan menguasai kawasan strategis. Selain Karka, ada PT. Mitra yang pemiliknya bekas anggota DPRD Kota Yogyakarta. Saat ini tiap vendor besar itu rata rata hanya menguasai lima titik reklame yang dijual berkisar Rp 300 hingga Rp 500 juta untuk satu reklame.

Prabukusumo mengakui perusahaannya pernah menjadi mitra pemerintah daerah dalam bisnis reklame luar ruang. Tapi, katanya, kini Karka hanya menguasai lima titik  lahan. “Masih lumayan,” kata Prabukusumo Jumat 23 Agustus 2013. Dia mengeluh banyak vendor asal luar DIY yang tak jelas dan melanggar format luasan reklame yang diatur.

Sebelumnya Sultan mengkritik Pemerintah Kota Yogyakarta karena membiarkan reklame makin menyesaki kota. “Saya minta pemerintah kota lebih mengatur reklame agar tidak menjadi sampah visual,” ujar Sultan Kamis 22 Agustus 2013.

Sumber: tempo

Dibaca 371 kali

Yuk Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUpon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *